● ● ●


Thursday, 24 May 2012
Still Olivia @ 02:27

“—but change is a constant thing, you know.”

So, here's the story: I am bored out to death since I'm not going to school today because of this sickness called "asam lambung" or whatever they call it...terus ceritanya nih, gue browsing ke roleplay forum that I used to go at such as IndoHogwarts (the old one), Cross-Sky Academy, and etcetera. As I read my old posts using my old characters such as Eunae Choi, Joshua Kinnsky, and manny more...there's this one thing that I just realised: I made my character based on myself back then. Sambil sedikit merenung, nih, ceritanya. Jadi aku yang dulu sama sekarang itu, ya...kurang lebih gini-gini aja. Memang sih ada perubahan, tapi nggak signifikan banget. 

Placing myself in the roleplaying world with another name and appearance with little variation, that's what I'm doing.

(No wonder why I can enjoy playing it so much.) 

Perlu bukti? Here are some lines that I used on my writing that describe me so well

(Semuanya diambil dari thread-thread via karakter Eunae Choi and Joshua Kinnsky; with all (c) on the writing and character goes to me)


1. Sosok sentimentilnya yang sebelumnya tak pernah diekspos secara terang-terangan untuk orang lain kali ini sepertinya telah tergali lebih dalam olehnya yang kepekaannya telah berlipat kali lebih sensitif dari biasanya (you know why). Bahkan ia yang biasanya hanya memberikan aksi cuek terhadap pembicaraan sepenting apapun (terutama pelajaran) dengan slogannya: `masuk ke telinga kanan, keluar di telinga kiri` kali ini tengah memasang kedua telinganya dengan benar-benar. Walau mungkin ialah yang menjadi pembicara aktif disini, toh ia sangat tak menginginkan jika slogannya tersebut terpakai kali ini dan akibat lanjutnya—somebody will probably get hurt again. (Eunae Choi)

2. Ketika beberapa orang mengatakan bahwa hidup itu tidak adil, maka ia tak setuju. Hidup itu adil, hanya saja—it sucks. Ketika ia baru saja mengalami sesuatu yang dianggapnya hal paling membahagiakan dalam hidupnya, kenyataan kembali menyadarkannya hingga kembali terjatuh ke tanah. (Eunae Choi)

3. Oh, what the heck. Ia tidak ingin emosi, lebih baik ia tetap setia dengan status Invisible!Galau-nya daripada harus marah-marah akibat hal kecil. (Eunae Choi)

4. Ia berharap ia bukan anak baik yang simpatik. Konsekuensi menjadi orang baik itu sama banyaknya saat menjadi orang jahat. (Joshua Kinnsky)

5. Slogan ‘We come for the food’ memang ide asli Eunae—yang juga disetujui oleh Chacha, tetapi gadis termuda Choi ini tidak hanya datang keAfternoon Tea, Ladies! untuk menyapu habis makanan. (Eunae Choi)

6.  “I-I’m not mad, damn it.” (Eunae Choi)

7. Ucapannya tidak bersifat ofensif. Ia justru mengucapkannya dengan nada bicara yang paling lembut—yang lebih lembut daripada nada bicara palsunya saat meminta porsi ekstra kepada penjual Korean taco di jalanan Oxford. (Eunae Choi)

8. Ia membuang muka karena rona merah menghias wajahnya. Lelaki ini kenapa selalu membuatnya tersipu, eh? Menyebalkan. (Eunae Choi)

9. Screw those mellow times!

Bosan rasanya jadi pihak yang terus-terusan jadi merasa serba salah dan terus-terusan terlihat berwajah mura. Lagipula, jika ia memandang refleksi dirinya di kaca—mulut merengut, atau wajahnya yang dingin dan tidak berekspresi—kadangkala membuatnya ingin menertawakan dirinya, lalu berteriak “Hei, ekspresi seperti itu tidak cocok di wajah keren ini!” di depan kaca untuk membuat dirinya sendiri untuk termotivasi agar wajahnya tak lagi kusut. Cara tersebut tidak pernah diterapkan—atau dilakukan—sebelumnya. (Eunae Choi)


10. There's nothing half so pleasant as coming home again

Itu yang dikatakan oleh Margaret Elizabeth Sangster―yang kebetulan ia dengar dari kawan seasramanya, Chacha Jackson, saat mereka sedang mengepak baju dan bersiap untuk pulang―yang ditimpalinya dengan sebuah tawa keras (Ia juga menambahkan “What the [censored] is that?” dengan nada mencemooh), menganggap bahwa kalimat tersebut hanyalah kalimat dramatisasi yang tak akan dapat direalisasikan. Nonsense lah, dramatisasi lah—begitulah pendapatnya sebelumnya. Namun, setelah beberapa hari tinggal di rumah…sekarang ia dapat ‘menangkap’ apa maksud sebenarnya perkataan Chacha (yang dikutip dari Margaret blahblah).  
(Eunae Choi)

11. Ia merasa seperti memainkan antagonis, a really evil one—sedang menjahati seorang bayi. Whoa. Asal tahu saja, Olivia bisa memenangkan piala Oscar untuk akting terbaik, no? Probabilitas bahwa masalah justru akan meluap menurut prediksinya akan bertambah besar cangkupannya. (Eunae Choi)
12. Tidak ingin membiarkan dirinya terus-terusan terlihat bingung, hal pertama yang dilakukannya adalah menggembungkan pipinya sambil merengut. (Eunae Choi)

Dan ada satu hal yang baru aku sadari: Both me and Eunae Choi got the same intelligent-type guy and which I also played the same role as Eunae did. Nggak mudeng? You probably won't, ya, unless you also a member of the IndoHogwarts member (dan kebetulan seangkatan sama gue), mwahaha. Nge-random ria in-between my major stomachache, that's what I'm doing right now. By the way, toodles guys! :3 

Labels: , , ,


Luceat lux vestrar
Let your light shine.

ambulatio
memoranda