● ● ●


Thursday, 24 May 2012
d e t e n t i o n @ 19:16


detention [dɪˈtɛnʃən]n1. the act of detaining or state of being detained
2. (Law)
a.  custody or confinement, esp of a suspect awaiting trial
b.  (as modifiera detention order3. (Social Science / Education) a form of punishment in which a pupil is detained after school
4. the withholding of something belonging to or claimed by another
You know, what? Dari dulu, sejak jaman SD sampe sekarang SMA...rasa-rasanya aku nggak pernah jauh-jauh dari yang namanya detensi alias hukuman (ta'ziran, kalo cara pondoknya). Entah itu aku mau berlaku baik ataupun enggak rasanya nggak ngaruh, soalnya mesti tetep kena hukuman. Aku masih inget bener dulu waktu jaman SMP kelas 8, aku sampe dipanggil ke ruang kepala sekolah gara-gara nggak masuk sekolah selama 10 hari tanpa izin (waktu itu habis lebaran, terus ceritanya nih aku habisin waktu lebaran sama habis lebaran di Malaysia-Singapore daaaan, yap, keterusan :p). Orang tua dipanggil ke sekolah, aku nulis surat pernyataan. 


Oke, bisa di-ma'fu
(Lah yang ngajakin bolos ortu, kok!)


Terus jaman SD dulu juga, pernah bolos satu sampe 2 minggu. Dipanggil ke ruang guru. Jadi inceran BK. SD-SMP teteeep aja. SMP juga pernah disuruh bersihin lapangan gara-gara nggak bawa topi, dan yang ini seriiing banget. Berhubung, ya, saya kan males banget ikut yang namanya upacara. Waktu upacara dulu juga kalo nggak salah pernah disuruh maju ke depan sama temen-temen lain gara-gara rame xD (maklum, naluri troublemaker + destroyer alami-nya nggak bisa diilangin)


SMA pun, yang namanya detensi masih tetep setia sama diriku.

(Sungguh, seharusnya ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan, hahaha...)

Waktu SMA ini ada sistem yang namanya poin. Kalau poin sampe 35, bisa di-DO. Peraturannya banyaaaaak banget, tapi tetep aja ya aku bandel :P Di SMA kali ini hukumnya wajib 'ain buat pake kaos kaki. Tapi, bisa diprediksi lah ya...aku jarang banget pake kaos kaki (sekalipun pake ya paling ga ada 30 menit kemudian udah menghilang xD) dan sabuk. ID card juga (padahal OSIS, wkwk). Terus, waktu ada pemeriksaan...aku bisa kabur dengan selamat selama 2x berturut-turut, mwahaha. Yang sekalinya lagi kena sama Bu Hanik u_u Ada juga larangan buat naruh sepatu di depan ruang pimpinan, tapi malah aku lakuin dengan begitu bangganya. 


Di asramapun, nggak jarang aku dipanggil Jumat pagi gara-gara ta'ziran. Entah yang itu mau ro'an (bersih-bersih), bayar pake duit/bolpen faster, nulis surat pendek, hafalan, dll gara-gara telat atau malah kadang nggak ikut jama'ah.


Bener ya, semakin dilarang itu malah jadi semakin ketagihan buat ngelakuin. Mwahaha >D 


Padahal, ya, aku masih kelas satu. Tapi pelanggarannya udah naudzubillah. Ckckck. "Dasar ngolip mah!" gitu biasanya kalo Rona bilang waktu lihat kelakuanku yang serba absurd. Yang paling keren, nih (weks)--aku pernah maju waktu upacara sekali. Iya, maju. Bukan, bukan gara-gara aku jadi petugas pleton atau MC. Tapi gara-gara dihukum. Gilaaa, masih pingin ketawa aja kalo inget-inget ini. 


So, here's the story: 




Waktu itu kan class meeting, absen-nya itu dilakuin pagi-pagi banget waktu apel. Terus waktu itu aku ada di barisan paling depan sendiri, aku absen anak-anak satu-satu...nah, jadi nih ya, aku kan anaknya tipe-tipe yang nggak mau ribet dan suka yang praktis-praktis aja, jadi aku bilang ke anak-anak, "Eh, siapa yang nggak masuk? Sini deh tak tanda tanganin semua. Masuk semua, kan?"


Terus, ada yang jawab, "Liv, si [blablabla] nggak ada lho."


Terus yang lainnya lagi bilang, "Lho, tadi aku liat anaknya kok!"


Terus aku nyimpulin kalo anaknya masuk, dan aku disuruh anak-anak buat tanda tanganin anaknya. Oke, masih fine-fine aja sejauh ini. Yang bikin aku mengumpat dalam seribu satu bahasa itu, ya, waktu Bu Hanik (salah satu pimpinan sekolahan, beliau itu bagian pemegang kesiswaan) ngitungin barisannya setiap kelas. Langsung deh, aku mbatin, "JDEEER, MATIIII AKUUU!" sambil gelagapan sendiri, nyari gimana caranya semoga aku nggak kena. Yang bikin aku tambah panik yaitu gara-gara ternyata si blablabla itu nggak ada di barisan. "Lho, anaknya terus dimana doooong?!" Gila, ya, yang aslinya niatnya baik (nggak juga, sih) malah jadi kayak gitu. 


Aku pinginnya sih anak-anak konspirasi gitu, kelas lain masuk ke barisannya X6 biar genap atau apa gitu kek, tapi...tauk ah. Kalo dulu SMP mah partner-in-crimeku banyak banget. Sekarang SMA belum bisa nemu lagi, alhasil waktu giliran kelasku...kena deh


"X6 di absen 32, tapi kok yang baris cuma 31?" Bu Hanik bilang lewat microphone-nya di tengah.


"WOOOO!" anak-anak kelas lain ngomong. 


Habis itu anak-anak diabsen satu-satu, dan gilirannya si blablabla disebut, anaknya kan nggak ada...langsung deh, Bu Hanik bilang, "Si blabla dimana ini? Siapa yang tandatanganin? Ayo, sini tanggung jawab. Atau nanti sekelas kena semua."


Aku dilema. Maju, apa enggak?


Karena saya makhluk yang bertanggung jawab, saya maju dengan pedenya..


Nggak usah, deh, ya, aku jelasin cerita lanjutannya. Gila banget, emang. Tapi ada banyak banget hikmah yang bisa aku ambil dari insiden waktu itu: "Jujur itu indah.*" Iya, coba kalo aku nggak jujur...coba aja aku nggak maju, malah 30 anak lainnya juga ikutan kena. Malah tambah ribet, kan? 


(Dan, tahu nggak? Ternyata yang aku tandatanganin itu anaknya beneran masuk! Dia ada di UKS waktu itu...atau BK, entahlah. Anak-anak sekelas juga langsung sungkem ke aku habis itu. Hahaha. Ha, jadi ceritanya toh aku sama aja jujur kok :p wkwk) 


And everytime I think of the time I get the detention, I just think of it as one of the real prove of the most absurd thing that I have done in this world. Ashamed? They're more like a laughing-matter for me, you know. It adds the awesomeness in me. I'm awesome just like that because I'm absurd, oh yeaaaah.**


________________________________

*someone said to me (salah satu oknum dari kelas lain yang juga ikut maju waktu insiden tanda tangan)
** GIllbert/Prussia (APH)

Labels: ,


Luceat lux vestrar
Let your light shine.

ambulatio
memoranda