● ● ●


Thursday, 6 December 2012
[ r e c a l l i n g t h e p a s t ] @ 23:43

Teka-teki yang kesukarannya melebihi sudoku berpetak 100x100, itulah dirinya, bagaikan sebuah misteri yang tak bisa engkau pecahkan. 

Suatu saat, ia ada untukmu. Bertindak seolah-olah ia keracunan ramuan cinta atau diguna-guna saking cintanya kepadamu. Tetapi intensnya rasa kasih sayang itu sangat jarang kau rasakan. Ia lebih sering menghilang. Sering kau anggap bahwa ia ditelan oleh bumi atau diculik oleh mafia. Dan kau selalu acuh. Sayangnya, hatimu berkata lain. Hatimu selalu merengek akan kehadirannya. Ia tak akan pernah diam hingga dia akhirnya datang kembali. 

Faktanya, ia adalah orang pertama yang bisa melengkapi kepingan puzzle di tempat suci bernama hati. Orang pertama yang bisa membuatmu tergila-gila. Your first love. Mereka bilang, yang pertamalah yang paling susah dilupakan. Dan kau tidak tanya kenapa, karena engkauyang biasanya lebih memilih untuk menjadi hipster, sang anti-mainstream, yang selalu punya alasan sendiri yang lebih logis—percaya akan kata-kata itu. 

Namun kau berontak. Kau berinisiatif untuk melupakan eksistensinya. Ia, yang kau sanjung-sanjung sebagai sang Inspirasi, sang tumpuan, apalah. Ia, yang sudah terlalu sering membuat hatimu ngilu karena keacuhannya dan keheningannya. Diamnya lah yang membuatmu kesakitan. Engkau tidak mengerti, bagaimana bisa ada seseorang yang begitu pelit mengeluarkan kata-kata? 

Dirimu muak. Sudah cukup dirugikan untuk sekian lamanya, menjadi pihak yang selalu kalah dalam permainan win-lose solution yang selalu kau mainkan dengannya selama hubungan kalian berdua masih terikat. Kau akhirnya pergi. Hubungan yang sudah dibangun berdua runtuh begitu saja, tak ada seorangpun dari kalian yang cukup waras untuk memperbaiki fondasinya.

Tidak ada yang mengerti kenapa kamu bisa jatuh hati kepadanya. Tidak dirinya, tidak juga dirimu. 

Kalian berdua itu seperti dua bongkah es. Sama-sama keras dan dingin. Jika saling didekatkan, temperatur di sekeliling kalian akan menurun. Begitulah gambaran hubungan kalian: dingin, keras, jarang mendapatkan penghangatan. Keduanya tidak akan bisa menjadi satu, kecuali salah satu diantara kalian bisa lebih cair. Mungkin saja kalian akan melebur, bersatu menjadi air dalam suatu wadah. 

Satu momen, kau akhirnya memutuskan untuk benar-benar melupakannya. Move on. Kamu yang selalu memperkirakan segala hal dengan rasional, nekat memberikan hatimu kepada orang lain. Seseorang yang kau anggap lebih baik dibandingkan dirinya, yang tulus mencintaimu. Yang mau mencurahkan seluruh perhatiannya kepada dirimu. Tapi hatimu itu masih menyimpan segala kenangan tentangmu dan dirinya. Gila, memang. 

Hanya dicintai saja ternyata bukanlah yang kau inginkan.

Perlahan, kau pun jenuh. Setelah puas enam bulan memainkan antagonis, kau pun keluar. Dengan resmi memutuskan benang ikatan dengan siapa saja. Faktanya, kau tidak sedingin itu. Sifatmu yang menyebalkan dan penuh dengan keangkuhan itulah yang membuatmu muak akan dirimu sendiri. 

Hingga akhirnya, kau memilih untuk diam, mengisolasi diri.

Lebih baik menjadi air yang tenang daripada menjadi ombak.

Luceat lux vestrar
Let your light shine.

ambulatio
memoranda